Produk Ramah Lingkungan Masih Sulit Dicari, Brand Bertanggung Jawab Diminta Naikkan Visibilitas

Written by

in

Permintaan terhadap produk berkelanjutan di Indonesia terus menguat, namun akses konsumen ke merek yang bertanggung jawab masih menjadi hambatan utama. Temuan ini relevan bagi pembaca di Semarang dan Jawa Tengah yang semakin selektif memilih barang ramah lingkungan, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga gaya hidup sehari-hari.

Paradoks di industri keberlanjutan nasional cukup jelas: minat beli naik, sementara banyak sustainable brand kesulitan menjangkau pembeli yang tepat. Celah antara niat dan perilaku belanja itulah yang kini menjadi fokus pelaku industri ritel dan merek bertanggung jawab.

Temuan riset soal akses produk hijau

Riset Katadata Insight Center (KIC) mengungkap bahwa 37 persen konsumen Indonesia belum pernah membeli produk berkelanjutan. Alasan utamanya bukan acuh tak acuh pada isu lingkungan, melainkan produk tersebut masih sulit ditemukan di saluran belanja yang mereka gunakan.

Angka tersebut menegaskan bahwa pertumbuhan merek bertanggung jawab tidak lagi cukup mengandalkan kampanye kesadaran saja. Visibilitas, kemudahan pencarian, dan titik temu dengan konsumen menjadi faktor penentu agar niat beli berubah menjadi transaksi nyata.

Konsumen mencari dampak, bukan sekadar diskon

Profil konsumen hijau saat ini berbeda dari pembeli konvensional. Mereka cenderung membeli cerita, transparansi proses, dan dampak sosial-ekologis di balik merek. Interaksi langsung, misalnya melalui pasar tematik atau pengalaman offline, dinilai memperkuat kepercayaan.

Bagi warga kota besar di Jawa Tengah, termasuk Semarang, pola serupa semakin terasa di keputusan belanja harian. Ketika nilai merek selaras dengan prinsip pembeli, loyalitas lebih mudah terbentuk dibanding sekadar mengejar potongan harga.

Visibilitas sebagai peluang terbesar merek

Pelaku industri menilai kunci skala responsible brand terletak pada seberapa mudah merek ditemukan dan terhubung dengan audiens. Tanpa kehadiran yang konsisten di kanal digital maupun ruang fisik, produk ramah lingkungan berisiko tetap berada di luar radar pembeli potensial.

Strategi yang menggabungkan edukasi, pajangan produk yang jelas, serta narasi dampak terukur dinilai lebih efektif menembus segmen konsumen yang sudah peduli tetapi belum dilayani dengan baik. Di sinilah peluang ekspansi merek berkelanjutan masih terbuka lebar.

Inisiatif pasar berkelanjutan mempertemukan merek dan pembeli

Menjawab tantangan tersebut, Blibli Tiket Action kembali menghadirkan program Langkah Membumi untuk kelima kalinya. Tahun ini konsepnya mengusung Langkah Membumi Market (LMM) 2026, yang dirancang mendekatkan merek bertanggung jawab dengan konsumen melalui interaksi yang lebih langsung.

Pendekatan berbasis pasar dan pengalaman diharapkan membantu menjembatani kesenjangan temuan riset: produk ada, minat ada, tetapi jalur pertemuan masih terbatas. Model serupa juga bisa menjadi acuan ritel daerah agar pilihan hijau lebih mudah diakses masyarakat luas.

Ke depan, kolaborasi antara merek, platform digital, dan komunitas lokal akan semakin menentukan apakah produk berkelanjutan hanya menjadi wacana atau benar-benar masuk keranjang belanja rutin keluarga Indonesia, termasuk di Semarang dan sekitarnya.

Sumber: Sindo News.

Tag: produk berkelanjutan, brand ramah lingkungan, konsumen hijau, visibilitas merek, Langkah Membumi, ekonomi berkelanjutan, ritel Indonesia

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *