Pengaruh Nahdlatul Ulama di kawasan perkotaan besar tidak bisa dipisahkan dari wajah keislaman sehari-hari warga ibu kota. Bagi pembaca di Jawa Tengah, termasuk Semarang, gambaran itu menarik karena corak nahdliyyin yang akrab di pesantren dan kampung Jawa juga terasa kuat di Jakarta melalui komunitas Nahdliyyin Betawi. Organisasi keagamaan terbesar di Indonesia ini menancapkan akar sosial yang dalam di DKI, seiring identitas keagamaan penduduk aslinya.
Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta, Husny Mubarok Amir, menegaskan bahwa karakter keislaman masyarakat Jakarta hampir identik dengan tradisi yang diusung NU. Bukan sekadar kemiripan permukaan, melainkan praktik yang sudah hidup lintas generasi di kampung-kampung Betawi dan lingkungan urban sekitarnya.
Tradisi keislaman ibu kota yang sejalan dengan NU
Sejak masa awal berdirinya organisasi, warga Jakarta sudah akrab dengan tahlilan, manaqiban, peringatan maulid, nyekar, serta ziarah kubur. Rangkaian amaliah itu menjadi bagian dari ritme sosial keagamaan, bukan sekadar seremoni musiman. Di banyak wilayah, kegiatan tersebut menopang kohesi tetangga dan memperkuat jaringan kiai serta tokoh setempat.
Penduduk asli Betawi, menurut catatan tersebut, hampir keseluruhan dapat disebut warga nahdliyyin. Hanya sebagian kecil yang berafiliasi dengan Muhammadiyah, FPI, atau ormas keagamaan lain. Fakta ini menjelaskan mengapa wajah keislaman publik di ibu kota sering terasa dekat dengan kultur pesantren yang juga dikenal luas di Jawa Tengah.
Ulama Betawi dalam sejarah kepengurusan NU
Nama-nama besar tokoh dan ulama Betawi memenuhi lintasan sejarah NU. Jejak itu terentang dari masa Guru Marzuki Bin Mirshod hingga keterlibatan tokoh pada Muktamar ke-8 tahun 1933 di Jakarta, yang diikuti antara lain Guru Manshur Jembatan Lima. Kehadiran mereka menandai bahwa basis sosial organisasi di ibu kota tidak dibangun semalam.
Hingga periode-periode mutakhir, hampir tidak ada masa kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang kosong dari ulama atau aktivis berlatar Betawi. Keterwakilan itu memperlihatkan amanah kultural sekaligus tanggung jawab menjaga tradisi yang sudah mengakar di masyarakat setempat.
Amanah sosial bagi pengurus NU Jakarta
Dengan basis warga yang begitu luas, pengurus wilayah di DKI memikul tugas merawat konsistensi amaliah, pendidikan keagamaan, dan solidaritas antarwarga. Pengaruh organisasi di ibu kota negara juga memberi bobot simbolik: praktik moderat dan bertradisi yang dijaga nahdliyyin menjadi rujukan banyak komunitas urban.
Bagi nahdliyyin di Semarang dan daerah lain di Jateng, pola yang sama sering dijumpai di majelis taklim, haul, dan kegiatan ziarah. Persinggungan budaya itu mempertemukan pengalaman Betawi dengan kultur Jawa tanpa menghapus ciri lokal masing-masing. Yang menyatukan adalah komitmen pada tradisi yang ramah terhadap kebiasaan masyarakat.
- Amaliah tahlil, maulid, dan ziarah sebagai perekat sosial
- Peran ulama Betawi sejak muktamar awal di Jakarta
- Keterhubungan kultural nahdliyyin ibu kota dengan warga di Jawa Tengah
Makna bagi pembaca daerah dan kohesi kebangsaan
Memahami posisi Nahdliyyin Betawi membantu publik daerah melihat NU bukan hanya sebagai struktur kepengurusan, melainkan jaringan budaya yang menyejarah. Di ibu kota, identitas Betawi dan afiliasi nahdliyyin saling menguatkan. Di Jateng, akar pesantren yang serupa memberi ruang dialog antarwilayah tanpa memaksakan satu pola tunggal.
Ke depan, menjaga amanah tersebut berarti merawat praktik keagamaan yang sudah hidup di masyarakat, memperkuat kader berakar lokal, serta memastikan organisasi tetap dekat dengan warga. Dari Jakarta hingga Semarang, jejak itu mengingatkan bahwa kekuatan NU bertumpu pada tradisi yang dihayati sehari-hari, bukan semata pada wacana formal.
Dengan demikian, kisah ulama Betawi dan warga nahdliyyin di ibu kota menjadi cermin bagi daerah lain: organisasi besar hanya bertahan jika selaras dengan watak keagamaan masyarakatnya sendiri. Itulah inti amanah yang terus diwariskan lintas generasi.
Sumber: Sindo News.
