Budaya preventif bencana kembali ditegaskan sebagai langkah strategis untuk menekan risiko dan dampak musibah alam. Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Almuzzammil Yusuf menyampaikan pesan itu dalam keynote speech pada Webinar Edukasi Mitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana, Rabu, 9 September 2026. Bagi pembaca di Semarang dan Jawa Tengah, pesan tersebut terasa dekat karena wilayah ini kerap menghadapi banjir, rob, dan longsor.
Dalam paparannya, Almuzzammil Yusuf mengingatkan bahwa bencana alam tidak selalu bisa dicegah sepenuhnya. Namun, risiko korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan kerugian sosial-ekonomi dapat ditekan jika masyarakat dan pemerintah membangun kewaspadaan sejak dini. Ia menempatkan mitigasi serta kesiapsiagaan sebagai inti respons yang terukur, bukan sekadar reaksi setelah kejadian.
Pesan inti soal mitigasi dan kewaspadaan
Menurut Presiden PKS, titik krusial terletak pada pengurangan risiko. Ia menekankan bahwa kewaspadaan kolektif, perencanaan, dan edukasi publik menjadi fondasi yang harus terus diperkuat. Pernyataan itu disampaikan sebagai pengantar diskusi daring yang mengangkat tema edukasi mitigasi, sehingga fokusnya bukan pada penanganan darurat semata, melainkan pada pencegahan dampak yang lebih luas.
Ia menggarisbawahi bahwa kesiapsiagaan bukan tanggung jawab satu pihak. Pemerintah, organisasi masyarakat, tokoh agama, dan warga perlu bergerak selaras agar sistem peringatan dini, jalur evakuasi, serta penyimpanan logistik berfungsi saat dibutuhkan. Pendekatan ini dinilai lebih murah dan manusiawi dibanding menanggung kerugian besar setelah bencana melanda.
Rujukan kisah Nabi Yusuf dan perencanaan jangka panjang
Almuzzammil Yusuf juga menyinggung sudut pandang keagamaan. Ia menjelaskan bahwa Islam tidak mengajarkan sikap pasrah tanpa persiapan. Sebagai ilustrasi, ia merujuk kisah Nabi Yusuf AS yang menyusun perencanaan menghadapi tujuh tahun kekeringan. Narasi itu dipakai untuk menegaskan pentingnya antisipasi, stok cadangan, dan manajemen risiko sebelum krisis benar-benar terjadi.
Dengan kerangka tersebut, budaya preventif diposisikan sebagai bagian dari tanggung jawab moral sekaligus kebijakan publik. Perencanaan jangka panjang, pemetaan kerentanan wilayah, dan latihan tanggap darurat menjadi contoh praktik yang sejalan dengan semangat itu. Bagi daerah rawan seperti pesisir Semarang atau kawasan lereng di sejumlah kabupaten Jateng, logika perencanaan serupa dapat memperkuat ketahanan komunitas.
Relevansi bagi Semarang dan Jawa Tengah
Meskipun webinar berlangsung dalam lingkup nasional, substansi kesiapsiagaan sangat relevan bagi warga Semarang Raya. Rob dan banjir genangan masih menjadi isu musiman di kawasan dataran rendah, sementara hujan ekstrem berpotensi memicu longsor di wilayah perbukitan. Membangun budaya cek saluran air, memahami jalur evakuasi, serta mengikuti informasi resmi BMKG dan BPBD merupakan wujud nyata dari pesan preventif yang disuarakan.
Edukasi mitigasi di tingkat RT/RW, sekolah, dan tempat ibadah dapat memperluas jangkauan kesiapsiagaan. Kolaborasi antara pemerintah daerah, relawan, dan komunitas peduli bencana membantu memastikan informasi tidak berhenti di forum daring, tetapi sampai ke rumah tangga. Langkah sederhana seperti menyiapkan tas siaga, mengetahui titik kumpul, dan merawat drainase lingkungan mendukung pengurangan dampak ketika cuaca ekstrem datang.
- Perkuat pemahaman risiko di lingkungan tempat tinggal
- Ikuti kanal informasi resmi kebencanaan
- Latih prosedur evakuasi bersama keluarga dan tetangga
- Jaga infrastruktur kecil seperti got dan tanggul lokal
Menjadikan kesiapsiagaan kebiasaan bersama
Presiden PKS menempatkan mitigasi sebagai investasi sosial. Ketika masyarakat terbiasa waspada, proses evakuasi lebih tertib, korban dapat ditekan, dan pemulihan berjalan lebih cepat. Budaya preventif juga menuntut konsistensi anggaran, data kerawanan yang mutakhir, serta komunikasi publik yang mudah dipahami warga awam, termasuk lansia dan penyandang disabilitas.
Webinar edukasi mitigasi menjadi ruang pengingat bahwa ancaman alam bersifat berulang. Tanpa perubahan perilaku dan sistem, kerugian serupa berpotensi terjadi lagi. Oleh karena itu, ajakan Almuzzammil Yusuf mengarah pada pembentukan kebiasaan: merencanakan sebelum krisis, berlatih secara berkala, dan menempatkan keselamatan sebagai prioritas bersama lintas golongan.
Bagi portal daerah seperti Harian Jateng, isu ini penting dipantau karena menyentuh langsung kualitas hidup warga. Pemerintah daerah dan unsur masyarakat di Semarang serta kabupaten/kota sekitarnya dapat menjadikan semangat preventif sebagai acuan program penguatan desa/kelurahan tangguh bencana, tanpa menunggu musibah datang lebih dulu.
Pada akhirnya, pesan yang disampaikan 9 September 2026 itu menegaskan ulang: bencana mungkin sulit dihilangkan, tetapi dampaknya dapat dikelola. Kombinasi mitigasi, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan—yang dilandasi perencanaan matang—menjadi jalan praktis untuk melindungi jiwa, harta, dan masa depan komunitas.
Sumber: Sindo News.
