Perbincangan soal hak asuh Audi Marissa kembali menguat di tengah kabar perceraiannya dengan Anthony Xie. Banyak warganet, termasuk di kalangan pengikut berita hiburan di Semarang dan Jawa Tengah, menafsirkan putusan pengadilan seolah ibu selebritas itu memilih lepas tangan demi gaya hidup tanpa beban. Tudingan itu dibantah keras oleh pihak hukumnya.
Keputusan pengadilan yang menetapkan hak asuh putra semata wayang berada di pihak ayah memicu gelombang komentar di media sosial. Spekulasi yang beredar menempatkan Audi seolah sengaja mengorbankan peran keibuan agar lebih leluasa menjalani kehidupan pribadi. Narasi semacam itu dinilai tidak sesuai fakta oleh kuasa hukumnya.
Tanggapan tegas di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan
Ryan Iswara, kuasa hukum Audi Marissa, menepis langsung tudingan miring tersebut saat ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Ia menegaskan kliennya tidak melepaskan tanggung jawab sebagai ibu hanya karena status hak asuh formal berpindah.
Menurut penjelasan Ryan, Audi tetap aktif mendampingi anak dalam rutinitas harian. Ia disebut masih mengantar ke sekolah, memastikan asupan makan, serta menjaga komunikasi dan pengasuhan layaknya ibu yang bertanggung jawab. Penegasan ini disampaikan untuk memutus spekulasi yang dinilai merugikan citra kliennya.
Akar spekulasi setelah putusan hak asuh
Publik kerap menyederhanakan putusan hak asuh sebagai cerminan total pengabdian orang tua. Padahal, dalam praktik perceraian selebritas, pembagian peran pengasuhan bisa lebih fleksibel dari sekadar bunyi putusan di atas kertas. Kesenjangan antara status hukum dan kebiasaan sehari-hari itulah yang sering memicu salah tafsir.
Di ruang digital, narasi “ingin bebas tanpa anak” cepat menyebar karena ringkas dan emosional. Bagi pembaca di daerah, termasuk Semarang, isu ini mudah menjadi bahan obrolan karena melibatkan nama yang sudah familiar di layar kaca. Namun, pihak Audi menekankan bahwa kesibukan publik figur tidak otomatis meniadakan peran keibuan.
Peran ibu yang tetap dijalankan
Kuasa hukum menggambarkan pola keterlibatan Audi sebagai bentuk tanggung jawab berkelanjutan. Pengantaran sekolah dan pemenuhan kebutuhan dasar anak disebut masih menjadi bagian dari kebiasaan yang dijaga. Penjelasan itu dimaksudkan agar publik memisahkan antara label hak asuh formal dan praktik pengasuhan nyata.
Dengan bantahan tersebut, pihak Audi ingin menutup ruang tuduhan bahwa perceraian dimanfaatkan untuk melepaskan beban pengasuhan. Fokus pernyataan hukumnya mengarah pada konsistensi sikap sebagai ibu, bukan pada pembelaan gaya hidup semata.
Pelajaran bagi pembaca soal isu perceraian publik
Kasus ini mengingatkan bahwa berita perceraian tokoh publik sering dilengkapi asumsi yang belum terverifikasi. Bagi masyarakat yang mengikuti perkembangan hiburan dari luar Jakarta, termasuk warga Semarang, penting memilah antara putusan pengadilan, kutipan kuasa hukum, dan opini warganet.
- Putusan hak asuh tidak selalu menggambarkan seluruh dinamika pengasuhan harian.
- Pernyataan kuasa hukum menjadi rujukan resmi untuk menepis spekulasi.
- Komentar media sosial perlu dibaca kritis agar tidak menstigma salah satu pihak.
Sejauh ini, bantahan Ryan Iswara menjadi penegasan paling langsung bahwa Audi Marissa tidak meninggalkan tanggung jawab keibuan. Perkembangan selanjutnya tetap bergantung pada dinamika keluarga dan proses hukum yang berjalan di Jakarta, sementara publik di daerah diharapkan menahan diri dari menyebarkan tudingan tanpa dasar.
Isu hak asuh Audi Marissa dan Anthony Xie pada akhirnya lebih dari sekadar gosip selebritas. Ia menyentuh cara masyarakat menilai peran orang tua pasca-perceraian. Menjaga proporsi berita, fakta pengadilan, dan empati terhadap anak menjadi sikap yang lebih bijak ketimbang memperpanjang spekulasi yang sudah dibantah pihak terkait.
Sumber: Sindo News.


