Peristiwa anak tantrum—menangis keras, berteriak, menolak diajak bicara, bahkan berguling di lantai—masih menjadi ujian kesabaran yang akrab bagi banyak orang tua, termasuk keluarga di Semarang dan Jawa Tengah. Momen itu sering muncul di tempat umum atau saat ibu sedang lelah. Momfluencer Laila Maulid mengajak para ibu melihat situasi tersebut bukan sebagai “kekalahan”, melainkan bagian dari proses anak belajar mengenali dan mengekspresikan perasaan.
Laila Maulid Triana, yang dikenal lewat akun Instagram @lailamaulid dengan sekitar 180 ribu pengikut serta TikTok @lailamaulidofficial sekitar 100 ribu pengikut, rutin membagikan pengalaman parenting, keluarga, gaya hidup, hingga ulasan produk. Kedekatannya dengan audiens ibu rumah tangga membuat tipenya tentang emosi anak mudah diterima tanpa terkesan menggurui.
Tantrum sebagai bahasa emosi, bukan sekadar rewel
Menurut Laila, anak yang sedang tantrum tidak otomatis “nakal” atau ingin menguji orang tua. Ia menilai perilaku itu sebagai cara anak yang masih berkembang untuk menyalurkan perasaan yang belum bisa diungkapkan dengan kata-kata rapi. Karena itu, fokus orang tua sebaiknya bergeser dari memenangkan adu keras suara menuju mendampingi anak memahami emosinya.
“Menurut saya, menjadi ibu itu proses belajar setiap hari. Termasuk ketika menghadapi anak tantrum. Kita tidak mungkin selalu tahu apa yang anak mau, jadi kita juga harus belajar memahami cara mereka mengekspresikan perasaan,” ujarnya. Sudut pandang ini menempatkan tantrum sebagai ruang belajar bersama, bukan arena hukuman spontan.
Ibu menenangkan diri sebelum merespons
Langkah pertama yang ia tekankan sederhana namun sulit dilakukan di tengah kebisingan: orang tua harus tenang lebih dulu. Reaksi spontan membentak atau memaksa anak diam sering justru memperkeruh suasana. Ketika dua pihak sama-sama naik pitam, komunikasi praktis terputus.
Laila menyarankan ibu mengambil jeda sejenak, mengatur napas, lalu baru memberikan respons. “Kalau anak sedang tantrum, saya rasa ibu harus menenangkan diri dulu. Jangan sampai anak sedang emosi, kita juga ikut emosi. Karena kalau dua-duanya sama-sama marah, biasanya situasinya malah semakin sulit,” tuturnya. Ketenangan bukan berarti membiarkan perilaku yang merugikan, melainkan memberi ruang berpikir agar tindakan berikutnya lebih tepat.
Kesempatan mengajar komunikasi, bukan adu menang
Bagi Laila, menghadapi tantrum tidak soal siapa yang “menang” antara orang tua dan anak. Momen tersebut justru dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan nama-nama perasaan, batas perilaku yang aman, dan cara meminta bantuan dengan kata-kata. Pendekatan ini selaras dengan konten parenting yang ia unggah secara natural di media sosial, sehingga banyak ibu merasa tertolong tanpa merasa dihakimi.
Di kota besar maupun kota menengah seperti Semarang, tekanan aktivitas harian—sekolah, pekerjaan, dan lalu lintas—bisa memperpendek sabar orang tua. Menyadari bahwa tantrum adalah fase belajar emosi membantu menurunkan rasa bersalah berlebihan, sambil tetap menjaga konsistensi batas yang sehat di rumah.
Konten parenting yang dekat dengan keseharian ibu
Selain parenting, Laila juga membahas family, lifestyle, daily life, travel, beauty, fashion, food, hingga product review. Namun kedekatan paling kuat justru muncul dari cerita keluarga yang jujur. Gaya tutur yang mudah dicerna membuat tips tentang anak tantrum terasa relevan bagi ibu yang mencari rujukan praktis, bukan teori panjang.
- Jeda napas sebelum merespons anak yang sedang meledak emosi.
- Hindari ikut terbawa marah agar situasi tidak memanas dua arah.
- Manfaatkan momen tenang untuk menjelaskan perasaan dan batas perilaku.
- Perlakukan tantrum sebagai proses belajar, bukan semata hukuman.
Bagi pembaca Harian Jateng, pesan inti dari Laila Maulid cukup jelas: ketenangan orang tua menjadi fondasi sebelum strategi lain diterapkan. Dengan menata emosi sendiri lebih dulu, ibu lebih mudah mendampingi anak mengenali perasaannya dan membangun pola komunikasi yang lebih sehat di rumah.
Sumber: Sindo News.

Leave a Reply